Perjalanan Sejarah PPTSB
Dari cikal bakal perkumpulan marga di Medan hingga organisasi berskala nasional yang mempersatukan keturunan Toga Sinaga, Boru, Bere, dan Ibebere.
Perkumpulan Si Raja Lontung
Perkumpulan Si Raja Lontung terbentuk di Medan sebagai cikal bakal organisasi marga Sinaga. Perkumpulan ini menjadi wadah awal silaturahmi dan gotong royong sesama keturunan Si Raja Lontung di perantauan.
Pendirian PPTS
Parsadaan Pomparan Toga Sinaga (PPTS) resmi didirikan di Gedung CBS, Jalan Sei Kera, Medan. Para pendiri yang berperan besar dalam pendirian organisasi ini adalah:
- Ranatus Sinaga — Ketua
- Djongok Manase Sinaga — Sekretaris
- Monis Levi Sinaga
- Simon Sinaga
- Boengaran Sinaga
- Herman Sinaga
Pengesahan Pemerintah Hindia Belanda
PPTS disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui Surat Keputusan Nomor 8027, menjadikan organisasi ini sebagai badan resmi yang diakui pemerintah kolonial saat itu.
Mubes I — PPTS Menjadi PPTSB
Musyawarah Besar (Mubes) pertama diselenggarakan. Atas usul Boru Sinaga, nama organisasi berubah dari PPTS (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga) menjadi PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru), mengakomodasi peran penting Boru Sinaga dalam organisasi.
Peresmian Tugu Toga Sinaga
Tugu Toga Sinaga setinggi 17 meter diresmikan di Desa Urat, Kecamatan Palipi, Samosir. Tugu ini menjadi simbol kebesaran dan persatuan seluruh keturunan Toga Sinaga serta menjadi landmark di Bona Pasogit (tanah leluhur).
Pembelian Tanah Asrama di Medan
PPTSB membeli tanah untuk pembangunan asrama mahasiswa PPTSB di Medan, sebagai wujud kepedulian organisasi terhadap pendidikan generasi muda Sinaga.
Peresmian Asrama PPTSB Medan
Asrama PPTSB di Medan resmi beroperasi, memberikan tempat tinggal bagi mahasiswa keturunan Sinaga yang menempuh pendidikan tinggi di kota Medan.
Transformasi Badan Hukum
PPTSB bertransformasi menjadi badan hukum perkumpulan yang terdaftar resmi di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Republik Indonesia, memperkuat legalitas dan kelembagaan organisasi.
Mubes XV
Musyawarah Besar ke-15 diselenggarakan di Convention Hall Danau Toba International, Medan. Mubes ini membahas program kerja nasional dan menetapkan kepengurusan PPTSB pusat periode berikutnya.
Muswil V — Kepengurusan Jakarta Raya
Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-5 dilaksanakan. Asbon Sinaga terpilih sebagai Ketua PPTSB Wilayah Jakarta Raya untuk periode 2025–2029, memimpin seluruh cabang PPTSB di wilayah DKI Jakarta.
Silsilah Toga Sinaga
Garis keturunan dari Si Raja Batak hingga Toga Sinaga
Si Tolu Ompu, Si Sia Ama
Tiga putra Toga Sinaga dan sembilan cucunya yang menjadi asal seluruh keturunan Sinaga
| Putra Toga Sinaga (Ompu) | 3 Cucu (Ama) |
|---|---|
| Raja Bonor (Sinaga Bonor) |
|
| Raja Ompu Ratus (Sinaga Ratus) |
|
| Raja Hasagian/Uruk (Sinaga Uruk) |
|
Asal-usul Nama Sinaga
Nama Sinaga berasal dari dua unsur: "Si-" (penanda personal dalam bahasa Batak) dan "Naga" (dari bahasa Sanskerta: nāga), sehingga bermakna "Yang dari Naga."
Perlu ditegaskan bahwa marga Sinaga bukan keturunan naga ataupun berasal dari Tiongkok. Nama ini merupakan pengaruh peradaban Hindu-Buddha yang masuk ke Nusantara dan memengaruhi budaya Batak. Dalam kosmologi Batak, naga adalah makhluk supernatural pelindung air (sungai, danau, dan laut) yang dipercaya memiliki kekuatan gaib — sebuah konsep yang sejalan dengan tradisi nāga dalam mitologi Hindu dan Buddha di Asia Tenggara.
Bona Pasogit (Tanah Leluhur)
Bona Pasogit marga Sinaga terletak di Desa Urat, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir — di Pulau Samosir, sekitar 10 km di selatan Pangururan. Di sinilah Tugu Toga Sinaga setinggi 17 meter berdiri kokoh sebagai penanda tanah asal dan simbol kebanggaan seluruh keturunan Toga Sinaga.
Desa Urat merupakan tempat bersejarah yang kerap diziarahi oleh keluarga besar Sinaga dari seluruh Indonesia, khususnya dalam rangkaian acara adat dan kegiatan PPTSB.