Ditulis oleh : Bapak DR. Wilmar Eliaser Simandjorang
Ex-Bupati Pertama Kabubaten Samosir
Jakarta, 03 Juni 2026.
Bagi saya, Danau Toba bukan sekadar destinasi wisata atau kawasan ekonomi. Danau Toba adalah sistem kehidupan yang menyatukan alam, budaya, sejarah, dan masa depan masyarakat.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang Danau Toba, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang keberlanjutan hidup jutaan manusia yang bergantung pada ekosistem ini.
Sebagai pegiat lingkungan berbasis geopark, saya melihat bahwa Danau Toba hari ini sedang berada pada titik penting. Kita memiliki peluang besar menjadi model pembangunan berkelanjutan Indonesia, tetapi sekaligus menghadapi tantangan besar jika daya dukung ekologinya tidak dijaga.
MENGAPA DANAU TOBA HARUS DIJAGA?
Danau Toba bukan hanya milik masyarakat Batak. Danau Toba adalah warisan dunia.
Sebagai UNESCO Global Geopark, Danau Toba memiliki tiga mandat utama:
1. Konservasi
2. Edukasi
3. Pembangunan ekonomi berkelanjutan
Ketiga unsur tersebut harus berjalan bersama.
Kalau hanya mengejar ekonomi, lingkungan akan tertekan.
Kalau hanya berbicara konservasi tanpa kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan juga tidak akan tercapai.
Karena itu yang harus kita bangun adalah keseimbangan.
TANTANGAN YANG SEDANG DIHADAPI DANAU TOBA
Sebagai pegiat lingkungan yang bekerja langsung di kawasan ini, saya melihat beberapa tantangan utama:
Pertama, tekanan terhadap kualitas lingkungan.
Danau menerima tekanan dari berbagai aktivitas manusia yang menyebabkan meningkatnya beban pencemar pada beberapa wilayah perairan.
Kedua, berkurangnya tutupan vegetasi di kawasan tangkapan air.
Ketika kawasan hulu kehilangan tutupan pohon, maka fungsi resapan air menurun, erosi meningkat, dan kualitas lingkungan danau ikut terdampak.
Ketiga, perubahan iklim.
Hari ini kita mulai merasakan perubahan pola hujan, perubahan musim tanam, dan meningkatnya kerentanan lingkungan.
Karena itu pendekatan pengelolaan Danau Toba harus berbasis ekosistem, bukan sektoral.
MENGAPA PUSUK BUHIT MENJADI PENTING?
Pusuk Buhit bukan hanya simbol budaya Batak.
Pusuk Buhit adalah benteng ekologis Danau Toba.
Kawasan ini menyimpan fungsi penting sebagai daerah tangkapan air, kawasan konservasi, sekaligus ruang sejarah dan spiritual masyarakat Batak.
Menjaga Pusuk Buhit berarti menjaga jantung ekologis Danau Toba.
Jika kawasan ini tetap lestari, maka manfaatnya akan dirasakan seluruh kawasan Danau Toba.
PRAKTIK BAIK YANG SEDANG DILAKUKAN
Yang ingin kami tunjukkan melalui Sustenesia adalah bahwa solusi sesungguhnya sudah ada di masyarakat.
Di kawasan Pusuk Buhit kami mendorong:
• Rehabilitasi hutan dan lahan
• Penanaman pohon lokal
• Perlindungan mata air
• Edukasi lingkungan bagi generasi muda
• Pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat
• Pelestarian budaya sebagai bagian dari konservasi
Kami percaya bahwa lingkungan yang sehat dan masyarakat yang sejahtera tidak boleh dipisahkan.
EKONOMI HIJAU DAN MASA DEPAN SAMOSIR
Samosir memiliki kekayaan luar biasa.
Bukan hanya panorama alam, tetapi juga produk-produk khas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Misalnya:
• Kopi Samosir
• Bawang Samosir
• Kemiri
• Alpukat
• Mangga lokal
• Tanaman herbal dan hortikultura khas kawasan Danau Toba
Ke depan yang harus dibangun bukan hanya produksi, tetapi juga kualitas, hilirisasi, branding, sertifikasi, dan akses pasar.
Dengan demikian masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan.
REFERENSI DAN ADVOCACY : IR. SAHAT MARULI SINAGA
Dalam berbagai diskusi mengenai masa depan Danau Toba, saya juga banyak mencermati gagasan dan advokasi yang disampaikan oleh Ir. Sahat Maruli Sinaga (PENASEHAT PPTSB).
Saya melihat banyak pemikiran beliau yang relevan untuk masa depan kawasan Danau Toba.
Yang paling penting adalah menghidupkan kembali filosofi pembangunan:
"MARSIPATURE HUTANA BE"
Membangun kampung halaman sendiri.
Bagi saya, filosofi ini sangat relevan dengan semangat keberlanjutan.
Karena keberhasilan Danau Toba tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
Harus lahir dari kesadaran masyarakat untuk menjaga tanah leluhurnya.
GAGASAN REFORESTASI SAHAT MARULI SINAGA
Salah satu gagasan yang sangat penting adalah perlunya gerakan reforestasi besar-besaran di kawasan Samosir dan Pusuk Buhit.
Saya sependapat bahwa keberhasilan menjaga Danau Toba harus dimulai dari menjaga kawasan hulunya.
Hutan adalah pabrik air alami.
Jika hutannya sehat:
• Mata air akan terjaga.
• Erosi berkurang.
• Risiko bencana menurun.
• Kualitas lingkungan Danau Toba akan lebih baik.
Karena itu rehabilitasi kawasan kritis harus menjadi gerakan bersama pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas lingkungan.
GAGASAN PERTANIAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL
Saya juga melihat relevansi gagasan beliau mengenai pengembangan komoditas khas Samosir.
Kopi, bawang, kemiri, alpukat, mangga, dan berbagai komoditas lokal memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki daerah lain.
Jika dikembangkan secara ilmiah dan profesional, produk-produk ini dapat menjadi identitas ekonomi baru kawasan Danau Toba.
Dengan demikian masyarakat memperoleh pendapatan yang lebih baik sekaligus menjaga lanskap alamnya.
GAGASAN PENDIDIKAN DAN SDM
Saya juga sependapat bahwa investasi terbesar Danau Toba sebenarnya bukan pada bangunan, tetapi pada manusianya.
Generasi muda Danau Toba harus memiliki:
• Pendidikan berkualitas
• Literasi lingkungan
• Kemampuan teknologi
• Penguasaan bahasa internasional
• Kebanggaan terhadap budaya Batak
Karena merekalah yang akan menjadi penjaga Danau Toba pada masa depan.
PARIWISATA BERBASIS BUDAYA DAN KONSERVASI
Danau Toba memiliki modal besar yang tidak dimiliki banyak destinasi lain.
Yaitu perpaduan:
• Keindahan alam
• Warisan geologi
• Budaya Batak
• Situs sejarah
• Tradisi adat
• Spiritualitas masyarakat
Karena itu pengembangan pariwisata harus berbasis konservasi dan budaya.
Jangan sampai pembangunan pariwisata justru menghilangkan identitas yang menjadi kekuatan utama Danau Toba.
KAITAN DENGAN SDGs
Apa yang sedang dilakukan masyarakat di kawasan Danau Toba sesungguhnya merupakan implementasi nyata SDGs.
Mulai dari:
• Air bersih
• Ketahanan iklim
• Pemulihan ekosistem
• Ekonomi masyarakat
• Pendidikan
• Kemitraan pembangunan
Karena itu Danau Toba dapat menjadi contoh bagaimana SDGs diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tingkat lokal.
PESAN UNTUK INDONESIA
Saya ingin mengajak seluruh pihak melihat Danau Toba bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai sistem kehidupan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pembangunan yang baik bukan pembangunan yang paling cepat.
Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Danau Toba dapat menjadi contoh bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan bersama.
Sebagaimana filosofi yang terus kita gaungkan: "Marsipature Hutana Be".
Mari membangun kampung halaman kita sendiri.
Mari menjaga Danau Toba sebagai warisan dunia, warisan budaya, dan warisan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Horas.
Komentar (0)
Bagikan tanggapan Anda. Komentar akan tampil setelah disetujui admin.
Belum ada komentar yang disetujui untuk artikel ini.