Asal-Usul Toga Sinaga
Toga Sinaga adalah leluhur dari seluruh keturunan bermarga Sinaga. Dalam silsilah Batak Toba, ia berasal dari garis: Si Raja Batak → Guru Tatea Bulan → Tuan Saribu Raja → Si Raja Lontung → Toga Sinaga.
Si Raja Lontung sendiri memiliki beberapa putra, dan Toga Sinaga adalah salah satu di antaranya — bersama Toga Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Aritonang, Toga Siregar, dan Toga Siahaan. Ketujuh keturunan inilah yang membentuk kelompok marga Lontung dalam sistem kekerabatan Batak.
Keunikan Marga Sinaga
Yang membedakan marga Sinaga dari banyak marga Batak lainnya adalah keunikannya: seluruh keturunan Toga Sinaga hingga hari ini tetap menggunakan satu nama marga — Sinaga — tanpa bercabang menjadi marga-marga baru. Ini berbeda dengan beberapa garis marga Batak lain yang terpecah menjadi sub-marga berbeda seiring perkembangan generasi.
Hal ini mencerminkan kekuatan ikatan persaudaraan dalam marga Sinaga: Hamu na mardongan tubu, na marsisolhot, na marsisada arga — kalian yang satu marga, yang saling mendukung, yang satu martabat.
Warisan Dalihan Na Tolu
Toga Sinaga mewariskan kepada keturunannya filosofi hidup Dalihan Na Tolu — tiga tungku yang menjadi landasan adat Batak Toba:
- Manat Mardongan Tubu — berhati-hati dan hormat kepada sesama semarga
- Somba Marhula-hula — menghormati pemberi istri (mertua dan saudaranya)
- Elek Marboru — menyayangi dan melindungi penerima istri (menantu dan anak perempuan)
Tiga pilar ini masih hidup dalam setiap pertemuan adat PPTSB Wilayah Jakarta Baru hingga hari ini.